Sabtu, 08 Mei 2010

Tokek menjadi tren

Ratusan tokek kini memenuhi kios milik Triono, di Pasar Burung Pramuka, Jakarta. Pria asal Magelang, Jawa Tengah itu, yang sejak 22 tahun lalu menjual burung berkicau itu, sekarang lebih banyak mengumpulkan tokek untuk dijual. Setiap pekan, setidaknya Triono bisa menjual 500 ekor tokek ukuran kecil yang beratnya di bawah 2 ons, seharga Rp 100 ribu per ekor. Para pembeli umumnya akan mengolah tokek menjadi obat gatal dan berbagai penyakit.
TOKEK adalah sejenis reptil kecil untuk penyebutan lain dari “Cecak” yang berukuran besar. Panjang total mencapai 340 mm, hampir setengahnya adalah ekornya. Dorsal (sisi punggung) kasar, dengan banyak bintil besar-besar. Abu-abu kebiruan sampai kecoklatan, dengan bintik-bintik berwarna merah bata sampai jingga. Ventral (perut, sisi bawah tubuh) abu-abu biru keputihan atau kekuningan. Ekor membulat, dengan enam baris bintil; berbelang-belang. Bentuk pangkal ekor ada yang membulat dan ada yang berbentuk persegi, kebagian ujung akan bulat memanjang. Jari-jari kaki depan dan belakang dilengkapi dengan bantalan pengisap yang disebut scansor, yang terletak di sisi bawah jari. Gunanya untuk melekat pada permukaan yang licin. Maka, dari sisi atas jari-jari tokek nampak melebar. Bagian ekor berwarna belang-belang dengan beberapa baris bintil-bintil berwarna sesuai warna bagian tubuh lainnya. Tokek juga ada yang berwarna putih susu atau kuning polos (albino), bahkan ada yang berwarna dasar hitam polos atau belang hitam putih.
Tokek kerap ditemui di pohon-pohon di pekarangan dan di rumah-rumah, terutama di pedesaan dan tepi hutan. Tokek rumah memangsa aneka serangga, cecak lainnya yang lebih kecil, tikus kecil dan mungkin juga burung kecil. Seperti bangsa cecak lainnya, tokek aktif berburu terutama di malam hari. Terkadang tokek turun pula ke tanah untuk mengejar mangsanya. Di siang hari, tokek bersembunyi di lubang-lubang kayu, lubang batu atau di sela atap rumah.
Tokek melekatkan telurnya, yang biasanya berjumlah sepasang dan saling berlekatan, di celah-celah lubang pohon; retakan batu; atau jika di rumah, di belakang almari atau di bawah atap. Tempat bertelur ini kerap pula digunakan oleh beberapa tokek secara bersama-sama. Telur menetas setelah dua bulan lebih.
Hewan ini tersebar luas mulai dari India timur, Nepal, Bangladesh, lewat Myanmar, Tiongkok selatan dan timur, Thailand, Semenanjung Malaya dan pulau-pulau di sekitarnya, Sumatra, Jawa, Borneo, Sulawesi, Lombok, Flores, Timor, Aru dan Kepulauan Filipina (Manthey & Grossmann, 1997: 232).
Ada yang mengatakan bahwa jenis kelamin tokek, dapat dibedakan berdasarkan warna bintik-bintiknya. Tokek berjenis kelamin jantan, bintik-bintiknya berwarna merah bata dan berwajah sangar atau “kasar”. Sedangkan yang berjenis kelamin betina, bintik-bintiknya berwarna kekuning-kuningan dan berwajah halus atau “ayu”. Membedakannya juga bisa dari bentuk kepala, bentuk kepala agar panjang adalah berjenis kelamin jantan dan bentuk kepala agar pendek adalah berjenis kelamin betina.
Keistimewaan lain dari tokek adalah kemampuannya memutuskan ekornya sendiri, untuk menyelamatkan diri disaat terancam bahaya (sama seperti perilaku cicak pada umumnya) dan bertujuan untuk mengelabui atau mengalihkan perhatian pihak lawannya. Sehingga ia memiliki kesempatan untuk melarikan diri, bahkan tanpa ekor ia akan lebih cepat berlarinya. Pangkal ekor yang terputus itupun dalam waktu beberapa minggu sudah akan tumbuh kembali.
Untuk menangkap seekor tokek, sebenaranya mudah saja. Alatnya pun cukup sederhana, yakni sebatang bambu yang telah dipotong tipis seukuran sapu lidi. Batang bambu itu kemudian diberi kail dan benang yang dilumuri lem. Untuk menarik perhatian tokek mata kail diberi serangga, seperti jangkrik. Dengan penciumannya yang tajam, tokek akan segera keluar dari sarangnya dan menghampiri umpan yang diberikan. Begitu tokek sudah melekat di benang yang kita oleskan lem, baru bisa kita tangkap.
Hati-hati, tokek rumah kerap menggigit jika ditangkap. Bila dipegang, tokek otomatis akan mengangakan mulutnya; siap untuk menggigit penangkapnya. Gigitannya sangat kuat, otot-otot rahangnya seakan mengunci.
Ada cara yang mudah untuk menipu tokek agar tak tergigit ketika memegangnya. Letakkan sesuatu yang agak lunak tetapi liat di mulutnya yang menganga, seperti sepotong ranting atau perca kain yang dilipat-lipat, yang tidak mudah putus. Tokek akan menggigitnya dengan sekuat tenaga, sehingga si penangkap aman untuk mengamati, memeriksa dan mengukur hewan itu. Tokek tak akan melepaskan barang itu selama ia masih dipegang orang; namun manakala tokek dibebaskan, ia akan segera melepaskan barang yang digigitnya dan berlari meninggalkannya. budidaya tokek : Tokek sebagai salah satu jenis binatang peliharaan di rumah, ada yang bilang gampang2 susah merawatnya. Tokek tidak bunyi pertanda dia sdg tdk nyaman or tdk betah karena berbagai hal, salah satunya krn tdk berada pada lingkungan dan habitatnya. Buatlah kandang sealamiah mungkin agar dia betah. Ada 5 unsur yg perlu dikondisikan pd kandang agar alamiah sehingga dia betah.
1. Udara2. Kayu (hindari memakai logam atau kawat)3. Air4. Tanah5. Dedauna
kandang sebaiknya terbuat dari bahan dasar kayu/papan dan salah satu permukaan kandang diberikan “kawat kasa”. Tempatkan kandang tokek jauh dari kebisingan dan sering ada orang lalu lalang. kandang tokek juga harus diletakkan di area yang tidak terkena sinar matahari secara langsung dan juga tidak boleh di tempat lembab atau basah. Misalnya… letakkan di teras halaman belakang rumah yang tidak terkena panas sinar matahari langsung dan tidak akan terkena hujan.dalam kandang letakkan juga bumbung bambu atau potongan pipa paralon, untuk tempat persembunyiannya. Ukuran, tentunya disesuaikan dengan ukuran tokeknya.
tokek termasuk binatang kanibal. Oleh karena itu jangan menempatkan lebih dari satu ekor di dalam satu kandang yang sama. Tapi ada juga yang bilang… boleh2 saja… satu kandang ditempati beberapa ekor tokek, tapi… cari tokek yang ukuran tubuhnya seimbang, jangan yang kecil dicampur dengan yang sudah besar. Pakan alamiah tokek adalah serangga, jangkrik, laron, ulat hongkong yang nota bene memiliki kandungan protein yang tinggi. Agar tokek menjadi cepat besar dan gemuk, ada yang bilang diberi udang kering/ebi atau telur rebus.
air minumnya adalah: - Air hujan (tampung langsung yg jatuh dr langit) - Air sumur (jgn air ledeng atau PAM) - Air yg mengandung mineral tinggi (spy kuat dan tdk mudah mati
Dari berbagai sumber yang saya baca, ternyata tokek memiliki beberapa manfaat juga. Secara tradisional, daging tokek bermanfaat untuk mengobati penyakit asma dan penyakit kulit (gatal-gatal, korengan, kudis, eksim, dll). Di beberapa daerah tokek sudah sejak lama, diproses menjadi tokek kering atau dendeng tokek, untuk dikonsumsi sebagai bahan obat tradisional atau untuk dibuat menjadi makanan kesehatan. Tokek kering ini bahkan sudah sejak lama telah menjadi komoditi eksport ke manca negara.
Manfaat lainnya yang masih belum dapat dipastikan kebenarannya adalah adanya “issue” yang mengatakan bahwa lidah atau empedu dari tokek berukuran besar, dapat diolah untuk dijadikan obat penyembuhan terhadap penyakit HIV AIDS. Dan hal ini pula yang diduga mendongkrak harga jual tokek berukuran besar, laku terjual dengan harga puluhan bahkan ratusan juta rupiah per-ekornya.
Ada beberapa cara mengolah daging tokek untuk pengobatan, pertama tokek diambil untuk dibakar sampai hangus. Setelah itu ditumbuk/dihaluskan agar menjadi bubuk, bubuk tokek tersebut dicampur dengan sedikit kopi dan diseduh dengan air panas, seperti layaknya menyeduh secangkir kopi.
Cara kedua mengolah daging tokek adalah dengan menggoreng daging tokek (sudah dikuliti) dengan menggunakan bumbu-bumbu sesuai dengan selera masing-masing. Tokek yang dijadikan camilan (makan kering), layaknya belut goreng, juga sudah lama ada yang memproduksi dan memperdagangkannya.
Soal khasiat tokek untuk penyembuhan penyakit AIDS, sampai saat ini belum bisa dipastikan Departemen Kesehatan. Sebab belum ada penelitian yang sahih dari lembaga penelitian manapun terkait kabar kalau tokek bisa menyembuhkan penyakit AIDS.Tokek tetap menjadi primadona lantaran diyakini punya daya mistis. Kalau di Jepang tokek dijadikan salah satu perlengkapan ritual, bagi sebagian besar masyarakat Tionghoa, tokek dianggap bisa membawa peruntungan atau hoki. Seekor Tokek bisa dianggap membawa hoki berpatokan pada jumlah suara yang dikeluarkannya. Sebab masing-masing tokek mengeluarkan jumlah suara yang berbeda. Ada yang 21 kali, 17, 15, 9, 7, dan 5 kali. Jumlah suara yang dikeluarkan tiap-tiap tokek, tidak pernah berkurang atau lebih.para pembeli yang bertujuan mencari hoki umumnya mencari tokek yang jumlah suaranya sebanyak 9 kali dan 7 kali. Konon angka-angka tersebut bisa membawa hoki bagi pemiliknya. Untuk memastikan tokek yang dibeli memiliki jumlah suara yang diinginkan, pembeli rela menunggu dari pagi hingga sore untuk mendengar jumlah suara tokek yang ada di kiosDi lingkungan kekaisaran Jepang, tokek punya kekuatan mistis dan magis. reptil bersuara nyaring itu diyakini merupakan reinkarnasi dari Naga, makhluk legenda yang selama ini dianggap sebagai perwujudan dewa. Itu sebabnya mereka rela membayar dengan harga super tinggi untuk seekor tokek. Seorang pedagang yg terjun ke bisnis ini mengku sudah dua kali menjual tokek berberat sekitar tiga ons seharga Rp 5 juta per ekor, yang la dapatkan dari Karawang, Jawa Barat seharga Rp 300.000
Namun tidak selalu pemburuan tokek yang dilakukan berjalan mulus. Pernah suatu ketika seorang pedagang rugi Rp 50 juta lantaran tertipu seorang warga yang mengaku memiliki tokek. Kejadian itu terjadi awal 2009 lalu. Saat itu, seorang warga di Cirebon mengaku memiliki 3 ekor tokek yang masing-masing beratnya mencapapai 1,5 kilogram. Untuk meyakinkan, si penjual juga mengirimkan foto dan video tokek tersebut. Melihat ukuran tokek yang besar ia langsung tertarik. Apalagi si penjual membandrol 3 ekor tokek hanya Rp 50 juta. Sementara pemesannya dari Jepang, berani membayarnya hingga Rp 2 miliar untuk tiga ekor tokek berukuran jumbo tersebut. Tapi sayangnya, untung besar yang diharap kandas di tengah jalan. Sebab ketika binatang itu tiba di Jakarta, di dalam karung hanya ada seekor tokek.Sementara dua lainnya adalah biawak. Sialnya lagi, tokek semata wayang tersebut didapati sudah tidak bernyawa lagi."
Jangan Mudah TergiurSosiolog dari Universitas Indonesia Musni Umar berpendapat, heboh soal tokek di masyarakat bisa menimbulkan persoalan baru. Dengan harga yang tinggi, masyarakat dari kalangan buruh atau petani bakal tergiur untuk melakoni bisnis tersebut karena dengan cara yang gampang mereka berharap dapat uang banyak. Mereka akhirnya akan meninggalkan profesi mereka karena impian dapat uang banyak dengan berburu tokek. Padahal bisa saja setelah masyarakat berkonsentrasi pada tokek, nantinya harga tokek akan turun secara drastis sehingga investasi yang kepalang didikeluarkan jadi tidak berguna.
Menurut saya bisnis tokek masih serba gelap. Tak jelas pasarnya, juga tak terang standar harganya. Saya tak yakin harga tokek sampai miliaran rupiah. Hal ini cuma gorengan sejumlah pihak dan bisnis ini tak akan bertahan lama.
dikutip dari beberapa sumber web.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar